Guru Indonesia mempunyai karakteristik sendiri dibandingkan dengan guru negara lain. Berlatar belakang budaya menjadi salah satu faktornya
Selamat Datang di Blog GURU INDONESIA

GURU LAYAK MENGAJAR

SIAPAKAH GURU YANG LAYAK MENGAJAR?


Guru Professional, Guru Teladan, Guru Bersertifikasi, Guru Akuntabel adalah sebutan untuk guru yang diharapkan oleh pemerintah dengan segudang ketrampilan mengajar di kelas. Mereka para guru yang mendapat predikat tersebut diharapkan bisa mengeluarkan kemampuannya untuk meningkatkan prestasi anak didiknya, sehinga menjadi anak yang pintar, pandai sesuai dengan harapan masyarakat, orangtua, dan pemerintah. Tidak tanggung-tanggung pemerintah untuk menciptakan hal tersebut berusaha untuk memenuhi anggaran pendidikan 20% dari APBN. Pemerintah mungkin mulai sadar bahwa kemajuan negeri ini tak lepas dari kemajuan pendidikan warganya. Tingkat pendidikan yang rendah atau SDM yang rendah sangat sulit untuk diajak maju, sehingga program apa saja yang dilakukan oleh pemerintah penyerapannya masih rendah sekali, karena sebagian besar penduduk Indonesia yang hidupnya di pedesaan tingkat pendidikannya baru 75 % masih dibawah wajib belajar 9 tahun alias tamat SMP/sederajatnya. Atas dasar inilah mungkin pemerintah berusaha keras agar para guru yng merupakan stakeholder pelaksanaan penidikan di depan perlu perhatian ekstra.
Indonesia dalam menangani guru seharusnya malu dengan Negara jiran Malaisya. Tahun 70 an kita menjadi guru orang Malaisyia, tetapi setelah 30 tahun gantian Indonesia menjadi murid negara jiran tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan kemajuan bidang ekeonomi, pendidikan, iptek yang 5 langkah lebih maju dari Indonesia. Dalam hal anggaran 20% dari APBN, Negara Malaisyia sudah menerapkannya 30 tahun yang lalu sedangkan Indonesia baru tahun 2009, sebelumya kurang lebih 5% persen dari APBN, sungguh-sungguh perbandingannya sangat beda sekali. Yang penting bagi kita meskipun terlambat perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan sudah mulai diharapkan oleh masyarakat, tinggal kita tunggu realisasinya.
Kucuran anggaran pendidikan 20% mulai dirasakan guru-guru yang lolos sertifikasi, bantuan peningkatan mutu pendidikan khusunya guru yang melanjutkan ke perguruan tinggi/ kuliah sudah dinikmati juga, BOS sudah meningkat, gedung-gedung yang rusak sudah mulai dianggarkan meskipun belum terealisasi semuanya. Gaji guru dan PNS umumnya sudah dianggarkan naik untuk tahun ini, yang dipertanyakan oleh para guru mengenai pengkhususan gaji guru berbeda dengan PNS lain masih ditunggu-tungu oleh kalangan pendidik. Sebab rumor dikalangan guru gajiminimal golongan IIA sekitar 2 jutaan.
Lalu apa hubungannya anggaran pendidikan yang 20% dengan kelayakan guru mengajar? Dalam hal ini masih ada pro dan kontra dalam merespon masalah tersebut. Secara defakto/formal kelayakan mengajar masih diukur oleh tingkat pendidikan yang ada. Guru harus memenuhi kualifikasi pendidikan D2 atau S1. Guru yang tidak lulus kualifikasi tersebut dikatakan tidak layak mengajar. Ukuran-ukuran tersebut memang sesuai atau cocok untuk syarat memasuki dunia pendidikan formal, tetapi harus diingat pula banyak pendidikan nonformal yang berhasil tanpa guru harus memenuhi kualifikasi D2/S1. Ini berarti kelayakan guru mengajar tidak harus berpendidikan formal, tetapi ada factor lain yang sangat-sangat esensial apakah guru itu layak atau tidak.
Ada faktor yang terlupakan selama ini untuk syarat-syarat guru dikatan layak atau tidak dalam mengajar, factor itu adalah sikap mentali atau kepribadian dari seorang guru.. Orang akan disebut guru baik itu di lingkungan formal atau nonformal pstilah orang yang mempunyai kelebihan dalam bidangnya. Dari kelebihan tersebut ia menyampaiakan kepada orang lain, sehingga ada yang disebut murid/siswa, Orang-orang yang mental atau kepribadianya baik pasti dalam mengajar akan mempunyai tanggung jawab yang tinggi. Kita bisa menilai sekolah-sekolah negeri dan swasta yang guru-gurunya mempunyai tanggung jawab yang tinggi atau ada istilah dedikasi yang tinggi pasti sekolah itu prestasi pendidikannya akan baik, tapi kalu guru-gurunya tidak berdedikasi/bertanggung jawab pastilah sekolahnya bisa dicap sebagai sekolah yang amburadul.
Dari wacana tersebut di atas sebenarnya dapat disimpulkan bahwa kelayakan guru mengajar dapat dilihat dari beberpa hal berikut ini:
1. Kualifikasi pendidikan
Syarat ini tidak pokok karena disebut guru pastilah menguasai bidangnya. Pengembangan kualitas guru dapat memalui buku, seminar, penataran atau yang lain.
2. Kepribadian/Dedikasi
Guru yang bertanggung jawab akan tugasnya dapat dilihat dari kegiatan sehari-hari di sekolah. Sepintar apapun guru atau sekualitas professor, doctor, tatapi ia malas mengajar maka guru tersebut tidak dapat dikatakan professional. Faktor-faktor inilah yang kadang-kadang pengaruhnya bisa dikatakan 90% untuk disebut guru yang dapat dikatakan layak mengajar.
Oleh sebab itu apabila pemerintah indikator layak tidaknya guru mengajar diukur dari kualifikasi pendidikan D2 atau S1 maka salah besar.
( Oleh purwo Sugiyoko /Januari 2009)